Dalam rangka memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) Nasional yang jatuh pada tanggal 24 April 2026, SMAN 1 Seyegan menggelar simulasi tanggap bencana gempa bumi secara intensif. Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen sekolah untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan tanggap terhadap potensi bencana alam.

Skenario Realistis di Tengah KBM

Tepat pukul 09.00 WIB, sirine darurat berbunyi memecah suasana kegiatan belajar mengajar. Tanpa kepanikan yang berlebihan, seluruh peserta simulasi langsung mempraktikkan prosedur “Drop, Cover, and Hold On” (Berlutut, Berlindung, dan Bertahan).

Setelah guncangan diasumsikan mereda, para peserta dievakuasi menuju titik kumpul melalui jalur evakuasi yang telah ditetapkan. Koordinasi yang apik terlihat saat tim tanggap darurat sekolah melakukan penyisiran di setiap sudut bangunan untuk memastikan tidak ada “korban” yang tertinggal.


Partisipasi Aktif dan Antusias

Kegiatan yang berlangsung di lapangan utama dan area gedung sekolah ini diikuti dengan penuh semangat oleh lebih dari 70 peserta, yang terdiri dari:

  • Perwakilan siswa (Pengurus OSIS dan MPK)

  • Guru dan staf karyawan

  • Tim Satgas Bencana Sekolah

  • Relawan lokal

Meskipun cuaca cukup terik, para peserta menunjukkan keseriusan yang luar biasa. “Simulasi ini bukan sekadar seremonial. Kami ingin memastikan setiap elemen di sekolah, mulai dari siswa hingga staf, tahu persis apa yang harus dilakukan jika gempa benar-benar terjadi,” ujar salah satu panitia pelaksana di sela-sela kegiatan.

Mengapa Ini Penting?

Kabupaten Sleman, khususnya wilayah Seyegan, secara geografis memiliki potensi risiko bencana gempa bumi. Oleh karena itu, edukasi mengenai manajemen risiko bencana menjadi krusial. Melalui peringatan Hari Kebencanaan Nasional 2026 ini, SMAN 1 Seyegan berharap:

  1. Meningkatkan Literasi Bencana: Mengubah rasa takut menjadi kesiapan mental.

  2. Uji Coba Jalur Evakuasi: Memastikan sarana dan prasarana keselamatan berfungsi dengan baik.

  3. Membangun Budaya Siaga: Menjadikan keselamatan sebagai bagian dari gaya hidup warga sekolah.

“Sedia payung sebelum hujan, siapkan mental sebelum guncangan. Kesiapsiagaan adalah kunci keselamatan utama.”

Acara ditutup dengan evaluasi bersama mengenai durasi evakuasi dan kelengkapan tas siaga bencana. Dengan suksesnya simulasi ini, SMAN 1 Seyegan membuktikan diri sebagai institusi yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga sigap dalam menjaga keselamatan warganya.