Alunan nada pelog dan slendro terdengar merdu membahana di lingkungan sekolah. Sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Yogyakarta ke-271, SMAN 1 Seyegan menyelenggarakan kegiatan Tabuh Gending Karawitan Bersama. Acara ini menjadi simbol syukur sekaligus penghormatan terhadap kekayaan seni budaya non-bendawi yang menjadi identitas istimewa Yogyakarta.

Harmoni dalam Bilah-Bilah Gamelan

Kegiatan yang dilaksanakan setelah upacara adat ini melibatkan kolaborasi antara guru, karyawan, dan siswa yang tergabung dalam ekstrakurikuler karawitan. Mengenakan busana kejawen lengkap, para penabuh (niyaga) tampak khidmat memainkan perangkat gamelan, mulai dari kendhang, saron, hingga gong.

Gending-gending klasik seperti Ladrang Wilujeng dan Gugur Gunung dipilih untuk dibawakan. Ladrang Wilujeng sendiri secara filosofis bermakna doa memohon keselamatan bagi seluruh warga Yogyakarta, sementara Gugur Gunung mencerminkan semangat gotong royong yang menjadi napas kehidupan masyarakat Jogja.

Karawitan sebagai Sarana Olah Rasa

Kepala SMAN 1 Seyegan menyatakan bahwa menabuh gamelan bersama bukan sekadar kegiatan bermusik, melainkan sarana “olah rasa”.

“Dalam karawitan, tidak ada satu instrumen pun yang boleh mendominasi secara egois. Semuanya harus saling mendengarkan agar tercipta harmoni. Inilah filosofi hidup masyarakat Yogyakarta yang ingin kita tanamkan pada siswa di hari jadi yang ke-271 ini,” jelas beliau.

Kegiatan ini juga bertujuan untuk membuktikan bahwa seni tradisional karawitan tetap relevan dan memiliki daya tarik bagi Generasi Z. Melalui sentuhan tangan para siswa, gamelan tidak lagi dianggap sebagai instrumen kuno, melainkan warisan dunia (UNESCO) yang harus dibanggakan.

Mengukuhkan Identitas Budaya

Peringatan Hari Jadi Yogyakarta ke-271 ini terasa lebih bermakna dengan adanya interaksi langsung siswa terhadap alat musik tradisional. Selain menghibur, kegiatan ini menjadi edukasi praktis mengenai struktur musik tradisional dan sejarah seni pertunjukan di lingkungan Keraton Yogyakarta.

Dengan berakhirnya dentuman gong terakhir, kegiatan tabuh gending bersama ini meninggalkan pesan mendalam: bahwa kemajuan zaman tidak seharusnya melunturkan kecintaan terhadap tradisi. SMAN 1 Seyegan melalui melodi gamelan, turut melestarikan nilai-nilai keistimewaan Yogyakarta agar tetap abadi hingga generasi-generasi mendatang.