Yogyakarta tidak hanya dikenal dengan kekayaan budayanya, tetapi juga memiliki kekayaan hayati yang unik. Beberapa jenis tanaman asli Yogyakarta kini berstatus langka dan mulai sulit ditemukan di alam liar. Tanaman-tanaman ini bukan sekadar hiasan alam, melainkan memiliki nilai filosofis, sejarah, dan kegunaan yang mendalam bagi masyarakat Jawa.
Mengenal kembali tanaman asli daerah adalah langkah awal untuk menjaga kelestarian ekosistem lokal dari kepunahan.
1. Kepel (Stelechocarpus burahol) – Flora Identitas DIY
Pohon Kepel adalah maskot atau flora identitas Daerah Istimewa Yogyakarta. Dahulu, tanaman ini sangat identik dengan lingkungan kraton.
-
Keunikan: Buahnya tumbuh menempel pada batang pohon. Rasanya manis dan memiliki aroma wangi seperti bunga mawar.
-
Nilai Sejarah: Konon, buah kepel adalah kegemaran para putri raja karena dipercaya dapat berfungsi sebagai deodoran alami (pengharum badan) dan pembersih darah.
2. Sawo Kecik (Manilkara kauki)
Tanaman ini sering ditemukan tumbuh di halaman rumah penduduk di sekitar area kraton atau situs-situs bersejarah di Jogja.
-
Makna Filosofis: Nama “Sawo Kecik” sering dikaitkan dengan filosofi “Sarwo Becik” yang berarti “serba baik”. Menanam pohon ini melambangkan harapan agar sang pemilik rumah selalu berperilaku dan bernasib baik.
-
Ciri Khas: Memiliki kayu yang sangat keras dan berkualitas tinggi, sering digunakan sebagai bahan pembuatan patung atau furnitur mewah.
3. Nagasari (Palaquium rostratum)
Pohon Nagasari dianggap sebagai pohon suci oleh sebagian masyarakat Yogyakarta. Pohon ini banyak ditemukan di kompleks makam raja-raja Imogiri.
-
Kegunaan: Kayu nagasari sangat dicari untuk dijadikan benda-benda spiritual atau kerajinan tangan karena teksturnya yang indah dan dipercaya memiliki energi positif.
-
Status: Karena pertumbuhan pohon yang lambat dan eksploitasi yang tinggi, keberadaan pohon nagasari asli kini semakin jarang ditemukan di hutan terbuka.
Tabel: Perbandingan Karakteristik Tanaman Langka Jogja
| Nama Tanaman | Bagian yang Dimanfaatkan | Status Keberadaan | Makna/Simbol |
| Kepel | Buah (Konsumsi) | Langka | Kecantikan & Wangi Tubuh |
| Sawo Kecik | Kayu & Buah | Terbatas | Kebaikan (Sarwo Becik) |
| Nagasari | Kayu & Bunga | Sangat Langka | Kesucian & Perlindungan |
| Gayyam | Biji (Pangan) | Mulai Jarang | Ketenangan (Ayem) |
Mengapa Kita Harus Melestarikannya?
Kehilangan tanaman asli daerah berarti kehilangan bagian dari identitas budaya. Tanaman seperti Gayam yang dulu banyak ditemukan di pinggir sungai Jogja kini mulai menghilang, padahal pohon ini memiliki kemampuan luar biasa dalam menyerap air tanah dan menjaga kestabilan ekosistem lokal.
Upaya pelestarian dapat dilakukan melalui:
-
Edukasi di Sekolah: Memperkenalkan jenis pohon lokal kepada siswa.
-
Penanaman Kembali: Memanfaatkan lahan pekarangan atau taman kota untuk menanam pohon asli Jogja.
-
Konservasi Berbasis Budaya: Menjaga area-area sakral yang menjadi habitat asli tanaman tersebut.
“Menanam pohon asli daerah adalah cara kita berbicara kepada masa depan bahwa kita menghargai akar budaya dan alam kita sendiri.”
Kesimpulan
Tanaman langka asli Jogja adalah warisan hidup yang harus dijaga. Dengan mengenal Kepel, Sawo Kecik, hingga Nagasari, kita tidak hanya belajar botani, tetapi juga belajar menghargai kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun oleh leluhur masyarakat Yogyakarta.