Pada awal September 2026, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengadopsi resolusi bersejarah bertajuk “Correct the Map”. Langkah ini mendorong dunia internasional untuk meninggalkan peta dunia tradisional dan beralih ke proyeksi peta baru yang lebih presisi, yaitu proyeksi Equal Earth (Bumi Setara).
Keputusan PBB ini memicu perhatian publik global. Mengapa visualisasi peta yang sudah digunakan selama ratusan tahun ini akhirnya disepakati untuk diubah?
1. Masalah Distorsi Luas Wilayah pada Peta Mercator
Selama lebih dari 450 tahun, dunia terbiasa menggunakan Proyeksi Mercator yang dibuat oleh Gerardus Mercator pada 1569. Peta Mercator dirancang khusus untuk navigasi pelaut Eropa karena mampu mempertahankan arah kompas dalam garis lurus.
Namun, proyeksi 2D dari Bumi yang berbentuk bola ini memicu distorsi skala. Semakin jauh suatu daratan dari garis khatulistiwa (mendekati kutub), ukurannya terlihat makin membesar secara tidak proporsional.
-
Greenland vs Afrika: Di peta Mercator, pulau Greenland terlihat memiliki ukuran yang hampir sama besar dengan Benua Afrika. Padahal kenyataannya, luas Benua Afrika 14 kali lebih besar daripada Greenland.
-
Negara-negara Tropis: Negara-negara di sekitar khatulistiwa—seperti wilayah Afrika, Asia Tenggara (termasuk Indonesia), dan Amerika Selatan—terlihat jauh lebih kecil dari ukuran sebenarnya.
2. Dampak Psikologis, Politik, dan Ekonomi
Visualisasi peta tidak sekadar alat bantu geografi, tetapi juga membentuk cara pandang dunia (worldview).
Peta Mercator secara implisit menempatkan wilayah Eropa dan Amerika Utara di pusat dengan skala visual yang sangat dominan. Sebaliknya, kawasan Global South (seperti Benua Afrika dan kawasan berkembang lainnya) terkesan kerdil. Hal ini berdampak pada persepsi politik dan ekonomi, di mana ukuran wilayah kerap dihubungkan dengan tingkat pengaruh, potensi investasi, serta kapasitas sumber daya alam.
3. Mengapa Memilih Proyeksi Equal Earth?
Proyeksi Equal Earth (dikembangkan tahun 2018) dipilih karena mampu menampilkan rasio luas daratan secara akurat dan adil.
| Fitur Peta | Proyeksi Mercator (Lama) | Proyeksi Equal Earth (Baru) |
| Fokus Utama | Akurasi arah kompas & navigasi laut | Akurasi perbandingan luas wilayah |
| Representasi Afrika | Terlihat kerdil, hampir sama dengan Greenland | Ditampilkan sesuai proporsi asli (14x Greenland) |
| Persepsi Geografis | Menyebabkan distorsi visual wilayah khatulistiwa | Menunjukkan skala daratan dunia secara adil |
Langkah Menuju Kesetaraan Global
Kesepakatan PBB dalam mengadopsi peta baru ini merupakan simbol komitmen menuju representasi global yang lebih setara. Dengan mengganti peta visual di lembaga pendidikan, media, dan platform digital, masyarakat dunia diharapkan memiliki pemahaman geografi yang jujur, proporsional, serta bebas dari bias sejarah masa lalu.