Dalam setiap perayaan besar seperti Gerebeg Maulud, Syawal, atau Besar di lingkungan Keraton Yogyakarta maupun Surakarta, sosok Gunungan selalu menjadi pusat perhatian. Lebih dari sekadar tumpukan hasil bumi yang diperebutkan warga, gunungan adalah mahakarya seni yang sarat akan makna mendalam mengenai hubungan manusia, alam, dan Sang Pencipta.


Apa Itu Gunungan?

Secara fisik, gunungan adalah susunan makanan, sayur-mayur, buah-buahan, hingga jajanan pasar yang dirangkai sedemikian rupa membentuk kerucut menyerupai gunung. Dalam tradisi Jawa, gunung dianggap sebagai tempat yang sakral—tempat bersemayamnya para dewa atau energi spiritual yang tinggi.

Penyebutan “Gunungan” sendiri merujuk pada bentuknya yang menjulang ke atas, menyimbolkan harapan agar doa-doa manusia senantiasa melangit dan dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.


Filosofi di Balik Bentuk dan Isi

Setiap elemen dalam gunungan tidak diletakkan secara sembarang. Ada filosofi Sangkan Paraning Dumadi (asal mula dan tujuan akhir kehidupan) yang tersirat di dalamnya:

  • Bentuk Kerucut (Menuju Satu Titik): Alas gunungan yang lebar melambangkan dunia yang fana dan luas, sementara puncaknya yang mengerucut melambangkan Esa-nya Tuhan. Ini adalah pengingat bahwa segala sesuatu di dunia ini berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya.

  • Hasil Bumi (Simbol Kemakmuran): Kacang panjang, cabai, sayuran, dan rengginang melambangkan kekayaan alam yang diberikan Tuhan sebagai sumber penghidupan manusia.

  • Warna-Warna Cerah: Seringkali gunungan menggunakan warna merah dari cabai atau putih dari nasi, yang melambangkan keberanian, kesucian, dan keseimbangan emosi manusia.


Makna Ritual “Ngalap Berkah”

Salah satu momen yang paling dinanti adalah ritual “Ngalap Berkah” atau memperebutkan isi gunungan. Bagi masyarakat tradisional, mendapatkan bagian dari gunungan bukan sekadar mendapatkan makanan gratis.

Secara filosofis, memperebutkan gunungan adalah simbol perjuangan manusia untuk mendapatkan rezeki dan anugerah Tuhan. Barang siapa yang bersungguh-sungguh dan bekerja keras (dilambangkan dengan berdesak-desakan), maka ia akan mendapatkan hasil. Hasil bumi yang telah didoakan oleh para abdi dalem ini dipercaya membawa berkah, kesehatan, dan kelancaran rezeki bagi yang menyimpannya atau memakannya.


Gunungan sebagai Media Sedekah Raja

Dari sisi sosial, gunungan adalah perwujudan dari kedermawanan seorang pemimpin kepada rakyatnya. Raja (Sultan) memberikan hasil bumi terbaiknya sebagai bentuk sedekah syukur atas ketenteraman wilayahnya. Ini menciptakan ikatan batin yang kuat antara pemimpin, rakyat, dan alam lingkungan.

“Gunungan adalah jembatan antara rasa syukur manusia kepada pencipta, dan kasih sayang pemimpin kepada rakyatnya.”


Kesimpulan

Budaya membuat gunungan adalah warisan adiluhung yang mengajarkan kita untuk selalu membumi namun tetap memiliki cita-cita yang melangit. Ia mengingatkan manusia bahwa alam telah menyediakan segalanya, dan tugas manusialah untuk mengolahnya dengan rasa syukur serta membagikannya kepada sesama. Di balik tumpukan hasil bumi tersebut, terpahat doa kolektif untuk harmoni dunia yang lebih baik.