Dalam kebudayaan Jawa, berpakaian adalah bagian dari unggah-ungguh (tata krama). Busana Gagrak Ngayogyakarta dirancang sedemikian rupa untuk mengatur perilaku pemakainya agar senantiasa rendah hati, tenang, dan bersahaja.
1. Surjan: Pakaian “Takwa”
Busana pria yang disebut Surjan berasal dari kata siro dan jan, atau sering dikaitkan dengan istilah “pakaian takwa”.
-
Kancing di Leher: Melambangkan rukun iman dalam Islam dan kedisiplinan diri.
-
Letak Kancing: Jumlah kancing yang ada di dada dan lengan memiliki makna simbolis untuk mengingatkan pemakainya pada Sang Pencipta dan menjaga panca indera dari hal negatif.
2. Kebaya Lurik: Kesederhanaan dan Kekuatan
Bagi wanita, penggunaan kebaya (khususnya lurik) melambangkan sifat perempuan yang patuh, halus, namun memiliki keteguhan hati. Motif garis-garis pada kain lurik bermakna kesederhanaan, mengingatkan bahwa manusia sejatinya sama di hadapan Tuhan.
Unsur Detail dan Simbolismenya
Setiap elemen dalam busana Gagrak Yogyakarta memiliki pesan moral yang kuat:
| Unsur Busana | Simbolisme dan Makna |
| Blangkon | Melambangkan jagat pikiran manusia yang harus terjaga rapi (disimbolkan dengan lipatan kain). Mondolan di bagian belakang bermakna manusia harus pandai menyimpan rahasia atau aib. |
| Keris/Dhuwung | Diselipkan di belakang sebagai simbol kekuatan dan perlindungan, namun diletakkan di belakang untuk menunjukkan bahwa kekerasan adalah jalan terakhir (sifat rendah hati). |
| Stagen/Lontong | Kain panjang yang membebat perut melambangkan kemampuan seseorang untuk mengendalikan hawa nafsu dan bersabar (dawa ususe). |
| Batik Motif Pakem | Motif seperti Parang, Sido Mukti, atau Wirasat mengandung doa dan harapan bagi pemakainya agar mendapatkan kemuliaan dan ketenteraman hidup. |
Busana sebagai Simbol Kedaulatan Budaya
Hingga saat ini, penggunaan pakaian Gagrak Yogyakarta pada hari-hari tertentu (seperti Kamis Pahing) bukan hanya rutinitas formalitas. Hal ini adalah bentuk perlawanan budaya terhadap globalisasi yang berlebihan.
Dengan mengenakan busana daerah, masyarakat Yogyakarta diingatkan kembali pada akar budayanya:
-
Identitas Diri: Membedakan karakter masyarakat Jogja yang menjunjung tinggi etika.
-
Persatuan: Menghilangkan sekat sosial melalui keseragaman busana yang bersahaja.
-
Penghormatan Sejarah: Menghargai warisan Sri Sultan Hamengku Buwono I sebagai peletak dasar budaya Mataram Ngayogyakarta.
“Ajining raga ana ing busana.” (Harga diri seseorang terlihat dari cara ia berpakaian).
Pakaian Gagrak Yogyakarta adalah cermin dari konsep Manunggaling Kawula Gusti, di mana pemimpin dan rakyat bersatu dalam tatanan nilai yang sama, tercermin dari kesantunan dalam berpakaian.