Suasana berbeda tampak di lapangan upacara SMA Negeri 1 Seyegan pada pagi ini. Dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Yogyakarta ke-271, seluruh warga sekolah mulai dari jajaran pimpinan, guru, karyawan, hingga siswa melaksanakan upacara bendera dengan mengenakan pakaian adat khas Yogyakarta yang megah dan sarat makna.

Keanggunan Busana Tradisional di Lingkungan Sekolah

Sesuai dengan instruksi mengenai pelestarian budaya, para guru dan siswa laki-laki terlihat gagah mengenakan Surjan lengkap dengan Blangkon dan kain Batik Mataram bermotif parang atau tumpal. Sementara itu, para guru dan siswi tampil anggun dengan balutan Kebaya Kartini atau kebaya lurik, dipadukan dengan tatanan rambut yang rapi serta kain jarik yang serasi.

Penggunaan busana adat ini bukan sekadar seragam, melainkan simbol penghormatan terhadap akar budaya luhur Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang telah berusia 271 tahun.

Prosesi Upacara dengan Nuansa Jawa

Yang unik dalam upacara kali ini adalah penggunaan bahasa Jawa dalam beberapa instruksi dan sambutan. Kepala SMAN 1 Seyegan, selaku pembina upacara, membacakan amanat yang menekankan pentingnya filosofi “Hamemayu Hayuning Bawana” bagi generasi muda.

“Peringatan Hari Jadi ke-271 ini adalah momentum bagi kita semua, khususnya para siswa, untuk tidak melupakan jati diri sebagai wong Jogja. Di tengah kemajuan teknologi, nilai-nilai etika, unggah-ungguh, dan semangat gotong royong harus tetap hidup di sekolah ini,” ujar beliau dalam sambutannya.

Edukasi Budaya bagi Generasi Z

Selain upacara, momentum ini juga dijadikan sarana edukasi bagi para siswa untuk mengenal lebih jauh sejarah berdirinya Yogyakarta. Melalui pakaian adat, siswa belajar mengenai filosofi di balik setiap lipatan kain dan aksesoris yang mereka kenakan.

Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa bangga (sense of belonging) terhadap budaya lokal di tengah gempuran budaya asing. SMAN 1 Seyegan berkomitmen untuk terus menjadi lembaga pendidikan yang tidak hanya unggul dalam prestasi akademik, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam pelestarian budaya Jawa.

Acara peringatan diakhiri dengan sesi foto bersama per kelas dan ramah tamah antar warga sekolah, yang semakin mempererat tali kekeluargaan di bawah semangat Yogyakarta yang berhati nyaman.