Jika Anda melintasi kawasan Seyegan menuju Tempel, Anda akan menjumpai pemandangan unik: sebuah saluran air yang posisinya berada di atas kepala, melintasi jalan raya dan sungai lainnya. Masyarakat setempat menyebutnya Buk Renteng, sebuah mahakarya irigasi yang telah menjadi nadi kehidupan pertanian Sleman selama lebih dari satu abad.

1. Arti di Balik Nama “Buk Renteng”

Nama “Buk Renteng” berasal dari bahasa Jawa. Buk berarti jembatan atau tembok pembatas jalan, sedangkan renteng berarti bergandengan atau berangkai. Nama ini merujuk pada konstruksi bangunan yang terdiri dari pilar-pilar melengkung yang berjajar rapi menyerupai terowongan panjang yang saling menyambung.

Secara administratif dan sejarah, nama asli bangunan ini adalah Kanal Van der Wijck.

2. Warisan Gubernur Jenderal Hindia Belanda

Pembangunan kanal ini dimulai sekitar tahun 1909 pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Nama “Van der Wijck” diambil dari sosok Carel Herman Aart van der Wijck, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang menjabat pada akhir abad ke-19 (1893–1899).

Tujuan utama pembangunan kanal sepanjang 17 kilometer ini adalah untuk mengairi perkebunan tebu dan tembakau milik perusahaan Belanda yang kala itu menjamur di wilayah Sleman dan Bantul, guna menyuplai belasan pabrik gula di Yogyakarta.

3. Teknologi Gravitasi yang Canggih

Hal yang paling mengagumkan dari Buk Renteng adalah teknologi yang digunakan. Bangunan ini dirancang menggunakan prinsip gravitasi bumi.

  • Elevasi Tinggi: Saluran dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah dan jalan di sekitarnya agar air dari Sungai Progo (berhulu di Bendungan Karang Talun, Magelang) dapat mengalir secara alami tanpa bantuan mesin pompa.

  • Sungai di Atas Sungai: Di beberapa titik, kanal ini melintang tepat di atas sungai alami, menciptakan pemandangan langka di mana aliran air “buatan” mengalir di atas aliran air alami.

4. Peran Strategis Sultan Hamengkubuwono IX

Meski dibangun di era Belanda, keberadaan Buk Renteng tak lepas dari kebijakan strategis Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Pada masa pendudukan Jepang, pembangunan saluran irigasi (termasuk kelanjutan sistem ini dalam Selokan Mataram) digunakan sebagai alasan agar rakyat Yogyakarta tidak dikirim menjadi tenaga kerja paksa atau Romusha. Rakyat dikerahkan untuk membangun saluran air di tanah sendiri demi kemakmuran lokal.

5. Menjadi Cagar Budaya dan Destinasi Wisata

Hingga detik ini, Buk Renteng masih berfungsi optimal mengairi puluhan ribu hektare sawah di wilayah Seyegan, Minggir, hingga Moyudan. Karena nilai sejarah dan arsitekturnya yang unik, Buk Renteng telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya pada tahun 2008.

Kini, selain sebagai sarana irigasi, kawasan ini menjadi spot favorit bagi para pesepeda (goweser) dan fotografer yang ingin mengabadikan sisa-sisa kemegahan arsitektur kolonial di tengah hamparan sawah yang hijau.


Catatan: Buk Renteng adalah bukti nyata bagaimana infrastruktur masa lalu masih bisa memberikan manfaat nyata bagi ketahanan pangan masyarakat di masa depan.