Bagi masyarakat di luar Yogyakarta, istilah Dimas dan Diajeng mungkin terdengar seperti sapaan akrab untuk adik laki-laki dan perempuan. Namun, di tanah Mataram, gelar ini bukan sekadar urusan silsilah keluarga atau ajang “kontes kecantikan” belaka. Dimas Diajeng adalah sebuah institusi nilai yang menjembatani masa lalu keraton dengan modernitas generasi Z.
Berikut adalah kupasan mendalam mengenai sejarah serta muatan pendidikan karakter di balik gelar Dimas Diajeng.
Akar Sejarah: Dari Kerabat ke Duta Budaya
Secara etimologi, Dimas berasal dari kata Adimas (adik laki-laki), sedangkan Diajeng berasal dari kata Dhi (yang utama) dan Ajeng (cantik/terpandang). Pada mulanya, istilah ini merupakan sapaan hormat sekaligus kasih sayang dalam lingkungan keluarga bangsawan atau keraton di Jawa.
Seiring berjalannya waktu, Pemerintah Kota dan Daerah Istimewa Yogyakarta memformalkan istilah ini ke dalam ajang pemilihan Duta Wisata. Tujuannya bukan sekadar mencari wajah representatif, melainkan mencari sosok pemuda-pemudi yang mampu menjadi role model dalam pelestarian budaya.
“Dimas Diajeng adalah representasi ideal sosok ‘Wong Jawa’ yang modern namun tetap nggandheng (selaras) dengan akarnya.”
Muatan Pendidikan Karakter: Lebih dari Sekadar Penampilan
Penyematan gelar Dimas dan Diajeng melalui proses seleksi yang ketat. Di dalamnya, terdapat kurikulum “tersembunyi” yang sangat kuat untuk membangun karakter anak muda:
1. Filosofi Hamemayu Hayuning Bawana
Setiap Dimas dan Diajeng dididik untuk memahami bahwa keberadaan mereka harus memberikan manfaat bagi lingkungan. Mereka diajarkan untuk menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Ini adalah pendidikan tentang tanggung jawab sosial dan lingkungan.
2. Etika Unggah-Ungguh dan Subasita
Di dunia yang semakin serba cepat dan kadang kasar, Dimas Diajeng belajar kembali cara berkomunikasi yang santun. Ini mencakup:
-
Wicara: Cara berbicara yang tertata.
-
Wiraga: Sikap tubuh yang sopan.
-
Wirasa: Kedalaman rasa dan empati terhadap lawan bicara.
3. Literasi Sejarah dan Budaya
Seorang Dimas Diajeng wajib menguasai sejarah daerahnya. Pendidikan ini melatih intelektualitas dan rasa bangga akan identitas nasional. Mereka tidak hanya belajar menari atau memakai kain jarik, tapi memahami filosofi di balik setiap motif batik dan gerak tari tersebut.
Tabel: Pilar Pendidikan Dimas Diajeng
| Pilar | Fokus Pendidikan | Output Karakter |
| Brain | Pengetahuan umum, pariwisata, & sejarah | Cerdas & Berwawasan Luas |
| Beauty | Penampilan bersih, rapi, & sesuai pakem | Disiplin & Menghargai Diri |
| Behavior | Tata krama Jawa & etika pergaulan | Santun & Berintegritas |
| Brave | Kemampuan public speaking & kepemimpinan | Percaya Diri & Tangguh |
Relevansi Dimas Diajeng di Era Digital
Mengapa pendidikan karakter model Dimas Diajeng tetap penting? Di tengah arus globalisasi, banyak anak muda kehilangan “kompas” identitasnya. Program ini menawarkan jawaban bahwa menjadi modern tidak harus berarti menjadi asing di tanah sendiri.
Pendidikan karakter dalam Dimas Diajeng mengajarkan bahwa menjadi “Duta” berarti menjadi pelayan masyarakat. Mereka dilatih untuk turun ke lapangan, mempromosikan UMKM, hingga mengedukasi masyarakat tentang pentingnya warisan budaya.
Kesimpulan
Gelar Dimas Diajeng bukan sekadar selendang yang melingkar di bahu. Di baliknya, ada beban sejarah dan tanggung jawab moral untuk menunjukkan bahwa karakter yang luhur—yang penuh kesantunan, kecerdasan, dan kepedulian—adalah tren yang tidak akan pernah basi dimakan zaman.
Meminjam istilah Jawa, mereka adalah sosok yang “Pinter nanging mboten minteri, dhuwur nanging mboten ngungkuli” (Pintar tapi tidak menggurui, tinggi tapi tidak merasa melampaui orang lain).