Semangat Memayu Hayuning Bawana terpancar nyata di SMA Negeri 6 Yogyakarta. Pada hari ini, Gubernur D.I. Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X, secara resmi meluncurkan Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ). Acara bersejarah ini menjadi panggung bagi sekolah-sekolah di DIY untuk menunjukkan komitmennya dalam melestarikan budaya lokal, tak terkecuali SMAN 1 Seyegan.
Dalam gelaran pameran yang mendampingi prosesi launching tersebut, stand pameran SMAN 1 Seyegan berhasil menarik perhatian pengunjung, termasuk Ngarsa Dalem, dengan menampilkan berbagai produk unggulan berbasis kearifan lokal.
Warisan Budaya dan Kreativitas Tanpa Batas
SMAN 1 Seyegan hadir tidak hanya sebagai peserta, tetapi sebagai bukti bahwa pendidikan karakter berbasis budaya telah merasuk dalam kurikulum mereka. Berbagai koleksi dan karya siswa yang dipamerkan meliputi:
-
Batik & Keris: Representasi adiluhung budaya Jawa yang diajarkan kepada siswa sebagai bentuk apresiasi seni dan filosofi hidup.
-
Jamu Tradisional: Inovasi kesehatan berbasis tanaman herbal yang menjadi ciri khas kemandirian siswa dalam mengolah kekayaan alam.
-
Kerajinan Bambu: Pemanfaatan material lokal yang diolah menjadi produk bernilai guna dan estetika tinggi.
-
Naskah Jawa: Penulisan kembali dan pelestarian literasi aksara Jawa untuk menjaga jati diri bangsa.
Inovasi Ramah Lingkungan: Wayang dari Limbah Kertas
Salah satu yang menjadi primadona di stand SMAN 1 Seyegan adalah kerajinan lukisan wayang yang dibuat dari limbah kertas. Inovasi ini memadukan nilai seni tradisional dengan kesadaran ekologis. Siswa berhasil mengubah sampah kertas menjadi karya seni visual yang detail dan sarat makna, membuktikan bahwa pelestarian budaya bisa berjalan beriringan dengan isu lingkungan modern.
Apresiasi Ngarsa Dalem dan Masa Depan PKJ
Kehadiran Sri Sultan Hamengkubuwono X di lokasi acara memberikan dorongan moril yang luar biasa bagi para siswa dan guru. Dalam arahannya, beliau menekankan bahwa Pendidikan Khas Kejogjaan bukan sekadar mata pelajaran, melainkan napas dalam membentuk generasi yang cerdas secara intelektual namun tetap rendah hati dan menjunjung tinggi etika Jawa (unggah-ungguh).
Kepala SMAN 1 Seyegan menyampaikan rasa bangganya atas partisipasi sekolah dalam momen krusial ini. Partisipasi ini menegaskan posisi SMAN 1 Seyegan sebagai sekolah yang aktif mengintegrasikan nilai-nilai budaya dalam proses belajar mengajar.
“Pendidikan Khas Kejogjaan adalah benteng karakter bagi anak cucu kita. Melalui karya-karya seperti ini, kita memastikan ruh Yogyakarta tidak akan hilang ditelan zaman.”
Acara yang berlangsung meriah ini ditutup dengan peninjauan stand oleh jajaran pejabat Disdikpora DIY, yang mengapresiasi kreativitas siswa SMAN 1 Seyegan dalam menerjemahkan filosofi PKJ ke dalam karya nyata yang inspiratif.