Secara etimologi, Imlek berasal dari bahasa Hokkien (im berarti bulan, lek berarti penanggalan). Perayaan ini menandai dimulainya musim semi di daratan Tiongkok, yang secara filosofis melambangkan harapan baru, kesuburan, dan rasa syukur atas hasil panen yang telah berlalu.
1. Filosofi Tradisi dan Simbolisme
Setiap elemen dalam perayaan Imlek memiliki pesan moral dan doa yang mendalam:
-
Warna Merah: Melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, dan pengusir energi negatif (legenda makhluk nian yang takut pada warna merah dan suara gaduh).
-
Angpao: Pemberian amplop merah dari yang sudah menikah kepada yang belum menikah melambangkan transfer kesejahteraan dan doa agar si penerima mendapat keberuntungan di tahun mendatang.
-
Hidangan Khas: * Ikan (Yu): Harus disajikan utuh, melambangkan kelimpahan yang tidak terputus.
-
Mie Panjang (Siu Mie): Simbol umur panjang dan rezeki yang terus mengalir.
-
Kue Keranjang: Teksturnya yang lengket melambangkan keeratan hubungan keluarga dan rasa persatuan.
-
2. Sejarah Pengakuan Imlek di Indonesia
Perjalanan perayaan Imlek di Indonesia mengalami pasang surut yang drastis seiring dengan perubahan peta politik nasional:
-
Era Orde Baru (1967-1998): Melalui Inpres No. 14 Tahun 1967, perayaan Imlek dilarang dilakukan di tempat umum dan hanya boleh dirayakan di lingkungan keluarga. Ekspresi budaya Tionghoa sangat dibatasi selama lebih dari tiga dekade.
-
Era Reformasi (Gus Dur): Titik balik terjadi pada tahun 2000. Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencabut Inpres tersebut melalui Keppres No. 6 Tahun 2000, yang memberikan kebebasan bagi masyarakat Tionghoa untuk merayakan agama dan adat istiadat mereka secara terbuka.
-
Penetapan Hari Libur Nasional (Megawati): Pada tahun 2002, Presiden Megawati Soekarnoputri menetapkan Tahun Baru Imlek sebagai Hari Libur Nasional yang berlaku mulai tahun 2003. Langkah ini menegaskan pengakuan negara terhadap keberagaman etnis di Indonesia.
Imlek sebagai Simbol Persatuan Bangsa
Di Indonesia saat ini, Imlek telah menjadi milik bersama. Perayaannya sering kali melibatkan akulturasi budaya lokal, seperti pertunjukan Barongsai yang dipadukan dengan musik daerah atau hidangan Lontong Cap Go Meh yang merupakan perpaduan kuliner Tionghoa dan Jawa.
“Imlek mengajarkan kita bahwa keberagaman bukanlah pemisah, melainkan kekayaan yang memperkuat fondasi kebangsaan kita.”
Kesimpulan
Memahami Imlek berarti memahami nilai mawas diri dan optimisme. Pengakuannya di Indonesia adalah simbol kemenangan demokrasi dan toleransi, di mana setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk merayakan identitas budayanya di bawah naungan Bhinneka Tunggal Ika.